Jumat, 05 Februari 2010

Christine Hakim

Nama :
Christine Natalia Hakim
Profesi :
Aktris & Produser Film.
Lahir :
Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 1956
Agama :
Islam
Suami :
Edo Eduard Jeroen Lezer .
Ayah :
Hakim Thahar
Jasa:
Berjasa dalam bidang perfilman tingkat nasional maupun internasional, sehingga dapat dijadikan teladan bagi generasi berikutnya.

Karya-Karyanya:
A. Membintangi beberapa film, antara lain:
1. Cinta Pertama
2. Sesuatu yang indah
3. Pengemis dan Tukang Becak
4. Kerikil-Kerikil Tajam
5. Di balik Kelambu
6. Tjoet Nya' Dhien
7. Kawin Lari
8. Daun Di atas Bantal
9. Nemuru Toko (Sleeping Man)
10. Tropic of Emerald
11. Pasir Berbisik.

B. Membintangi Mini Seri:
1. Bukan Perempuan Biasa
2. Tiga Orang Perempuan.

C. Juri Festival Internasional, diantaranya:
1. Tahun 1985 di Shanghai Film Festival.
2. Tahun 1990 Tokyo Film Festival
3. Tahun 1991 Hawaii Film Festival
4. Tahun 1994 Asia Pasific Film Festival di Australia
5. Tahun 1995 Singapore Film Festival dan Asia Pasific Film Festival di Jakarta
6. Tahun 1997 Fukuoka Asian Film Festival, terpilih menjadi Ketua Juri South East
Asian Bicnalle Film Festival di Cambodia.
7. Tahun 1998 Rotterdam International Film Festival
8. Tahun 1999 Pusan International Film Festival
9. Tahun 2002 Festival Film Cannes ke-55 di Perancis.

D. Pembicara Dalam Simposium International, antara lain:
1. Kanagawa Film Festival di Jepang
2. Tahun 1991 Hawaii International Film Festival di Hawaii.
3. Tahun 1994 Women's Film Festival di Kyoto, Jepang.
4. Tahun 2002 Emergencies Discovering The New Generation of Asian Women
Filmmakers di Melbourne International Film Festival.

E. Film yang diproduksi:
1. Daun Di Atas Bantal (1998)
2. Pasir Berbisik (2001)

Tanda Kehormatan
Satyalancana Wira Karya (Keppres No. 006/KT/Th.1999)
Bintang Budaya Parama Dharma
(Keppres No.052/KT/Tahun 2003, Tanggal 12 Agustus 2003)

Penghargaan
� Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik, dalam film Cinta Pertama.
� Tahun 1977, Piala Citra, sebagai Pemeran Wanita Terbaik dalam film Sesuatu Yang Indah.
� Tahun 1979, Piala Citra, sebagai Pemeran Wanita Terbaik dalam film Pengemis dan Tukang Becak.
� Piala Citra, sebagai Pemeran Wanita Terbaik dalam film Kerikil-Kerikil Tajam.
� Piala Citra, sebagai Pemeran Wanita Terbaik dalam film Di balik Kelambu.
� Piala Citra, sebagai Pemeran Wanita Terbaik dalam film Tjoet Nya' Dhien.
� Best Actrees di Asia Pasific International Film Festival

Alamat :
JI. Bendungan Hilir IIII
164 Jakarta Pusat

Mengukir Prestasi Internasional


Aktris dan produser film ini telah mengukir berbagai prestasi internasional. Penampilannya selalu anggun dan tenang. Ia memiliki kecantikan alamiah, nyata dan tidak khayali. Pemeran utama film Cut Nyak Din ini sangat teguh dalam komitmennya pada dunia film dan kebudayaan dalam arti luas. Ia pun menerima tanda kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma --yang sederajat dengan Bintang Jasa Utama Kamis14/8/03.


Nama lengkapnya Christine Natalia Hakim. Nama yang disandangnya sejak kecil. Nama itu mengundang tanya. Bahkan mungkin saja banyak yang salah duga. Sebab ia lahir dalam keluarga muslim, seorang muslimah dan sudah pula menjadi hajjah. Lalu mengapa ia menyandang nama itu? Nama itu tidak bermakna lain, selain karena ia lahir pada 25 Desember 1956. Persis hari Natal yang oleh rekan-rekan kristiani di zaman modern diperingati sebagai hari lahir Jesus Kristus.

Penampilan artis kondang ini selalu anggun dan tenang. Cara berdandannya bisa mengekspresikan keartisannya, modis dan anggun, tapi secara keseluruhan tidak berlebihan. Ia seorang perempuan yang memiliki kecantikan alamiah, nyata dan tidak khayali. Beruntunglah pria yang menjadi suaminya.

Pemeran utama dalam film Cut Nyak Din ini sangat teguh dalam komitmennya pada dunia film dan kebudayaan dalam arti luas. Semangat pahlawan Cut Nyak Din, tampaknya benar-benar terpatri dalam benaknya. Menurut Christine, Cut Nyak Din memiliki nilai gagasan besar dan kuat. Nilai yang berani membuka mata menghadapi musuh dan tradisi yang mempermasalahkan jender dan persolalan hidup lainnya.

Salah duga bisa juga muncul jika orang menoleh masa manis remaja Christine Hakim dengan Broery Marantika. Masa pacaran dan bahkan mereka sempat merekam satu album musik duet. Tapi tidak banyak yang tahu alasan mereka untuk memilih berpisah. Orang hanya menduga-duga, mungkin saja alasan keteguhan mereka menganut agama masing-masing.

Sejak perpisahan dengan Broery, Christine menjadi lebih serius dalam karir filemnya dan memperoleh beberapa Citra. Juga pergi haji lalu menikah. Ia aktris yang sudah mendunia. Aktris dan produser film ini telah mengukir beberapa prestasi internasional. Antara laian bertugas sebagai anggota Dewan Juri Festival Film Internasional Cannes (FFIC) ke-55 di Prancis, 15-26 Mei 2002 lalu.

Di festifal itu, penerima penghargaan Nikkei Asia Prizes bidang kebudayaan dari koran besar Jepang, Nikkei Shimbun, ini duduk sederet dengan juri lain yakni Sharon Stone si Basic Instinct, serta Michele Yeoh, aktris asal Malaysia yang bermain dalam film James Bond Tomorrow Never Dies. Panel juri diketuai sutradara David Lynch.

Ia menyatakan sangat menghargai kehormatan yang diberikan itu. Sebuah kesempatan besar bagi aktris dan sutradara Indonesia dan Asia Tenggara untuk memantapkan posisi. Perempuan kelahiran Kuala Tungkal, Sumatera ini mengaku, kesempatan langka yang datang kepadanya ini, harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. "Saya sudah diberi kesempatan. Ini kan peluang buat Indonesia. Mudah-mudahan ini nanti berkelanjutan. Apakah orang lain di situ yang jadi juri atau film kita ikut di situ. Paling tidak, unregard, syukur-syukur bisa kompetisi," kata perempuan pemeran utama film Daun di Atas Bantal ini.

Terpilihnya Christine, pastilah melalui berbagai pertimbangan dan kualifikasi internasional. Track record dan prestasi sebagai juri di festival internasional. Pemberitahuan tentang terpilihnya sebagai anggota juri Festival Film Cannes sangat mendadak. Ia dihubungi pada 9 April dan memutuskannya sehari kemudian (10 April). Waktunya sangat mepet. Sebab, 15 April harus sudah official announce. Mepetnya waktu barangkali untuk menjaga kerahasiaan. Memang, beberapa waktu sebelumnya ia susah dihubungi, saat diundang ke Jepang untuk mendapat penghargaan di bidang kebudayaan, yaitu Nikkei Asia Prizes.

Dalam berbagai kesempatan, terutama kesempatan internasional, ia selalu berusaha melakukan sesuatu yang bermanfaat buat Indonesia. �Kalau seandainya saya present diri saya sendiri, orang juga pasti akan ingin tahu tentang Indonesia. Kan ada kesempatan yang memang harus dimanfaatkan. Artinya, itu kan gathering-nya orang film dunia. Kalau hanya mempresentasikan diri saya tanpa membawa misi lain kan sayang," tandas aktris yang oleh pihak Jepang pernah dibuatkan Pekan Retrospeksi khusus film Christine Hakim di Tokyo pada tahun 1995.

Kegiatan Christine sebagai juri di festifal film Cannes itu dipertontonkan melalui tayangan dokumentasi berdurasi empat menit, pada acara pembukaan Festival Sinema Prancis (FSP) 2002 di Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada Kamis (30/5) sore. Dalam tayangan itu ada komentar aktris Hollywood Sharon Stone yang juga menjadi anggota dewan juri FFIC, serta sutradara AS terkemuka David Lynch yang Ketua Dewan Juri di festival yang sama, mengenai sosok Christine

Kemampuan akting Christine Hakim sudah diakui sejak ayunan langkah pertamanya di dunia film. Buktinya, lewat film debutnya, Cinta Pertama, yang dimainkan bersama Slamet Rahardjo Djarot, dia langsung menyabet Piala Citra.

Kini, nama Christine pun mengglobal. Bagaimana komentar dan penilaian rekan-rekannya tentang ketokohan Christine? "The best-nya Christine itu karena dia tak pernah berhenti belajar dan tidak cepat puas," kata Slamet Rahardjo. Itu pula yang membuat sutradara film Marsinah, Cry Justice mengacungkan jempol. �Selain menggali ilmu dari almarhum Teguh Karya, Christine selalu belajar pada apa pun dan siapa pun. Dia juga selalu membuka pikiran, hati, mata, dan perasaannya. Kadang-kadang juga membuka telinganya," tambah Cry Justice.

Sebagai sutradara, Slamet menilai, Christine, bintang film Pasir Berbisik, merupakan pekerja yang baik dan profesional. Dia juga dinilai bisa bekerja sama dengan pemain lainnya meskipun itu seorang junior. Di mata juniornya, Dian Sastrowardoyo, pemeran Berlian dalam film Pasir Berbisik, Christine memiliki arti penting. "Dia sudah seperti ibu bagi Dian. Dian juga sering minta ajarin dia. Dan dia cuma bilang, ya udah, yuk kita sama-sama belajar," ungkap Dian yang juga sukses meraih beberapa penghargaan internasional.


Obsesinya untuk melahirkan film Indonesia bertaraf internasional tidak pernah padam. Peluang untuk itu sesungguhnya terbuka. Kendati di lain pihak harus diakui sangat sulit. Dihadapkan dengan kondisi sehari-hari yang masih cukup memusingkan untuk bisa survive.

Indonesia sudah mulai membuat film sejak 1926. Pasang surut terjadi dan sangat banyak dipengaruhi situasi politik, misalnya waktu Orde Lama dan Orde Baru. Belakangan film Indonesia turun. Beberapa pihak mengatakan itu akibat berdirinya grup 21. Tapi Christine melihat penyebab kuncinya adalah kebijaksanaan Harmoko. Pihak 21 adalah pedagang. Harmoko sebagai menteri seharusnya memberi perlindungan, tapi dia tidak melakukan apa-apa. �Saya kira itu dosa besar Harmoko,� ujar Christine.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Christine & Lux
Dikontrak Lux pada 1979/1980. Yang unik dari iklan Lux yang dibintangi Christine, selain menonjolkan kecantikannya yang asli Indonesia. Iklan tersebut juga menonjolkan prestasinya sebagai aktris terbaik dengan menyebut bahwa Lux juga pantas mendapat piala karena berjasa merawat kecantikannya... Selama dengan Lux, Christine membintangi 2 print ad, satu seperti diatas dan yang kedua versi 8 bintang Lux bersama Widyawati dll.

Minati Atmanagara

Minati Atmanagara

Lahir di Berlin Barat, Jerman, 2 Maret 1959 umur 50 tahun adalah seorang pemain film dan bintang sinetron berkebangsaan Indonesia. Minati merupakan kakak dari aktris Chintami Atmanagara.


Karir
Minati mulai berkarir sejak tahun 1980-an, tercatat telah lebih dari 10 film yang dibintanginya antara lain, "Lebak membara (1983)", Lara jonggrang (1983), "Hati yang perawan" (1984), dan "Apa Arti Cinta" (2005). Selain layar lebar, Minati juga terjun ke akting untuk layar kaca. Sinetron yang dibintanginya antara lain "Matahari Cinta", "Perawan Desa", dan "Cintailah Aku Gadis".
Selain sibuk syuting, Minati juga masih sempat mengurusi 4 studio senam miliknya. Minati memang menggemari senam, bahkan dialah yagn mempopulerkan Senam Body Language. Body Language merupakan gabungan dari beberapa jenis senam yang sudah ada, antara lain senam pembentukan, senam nafas, dasar jazz, dan ballet. Pemilik tinggi 166 cm dan berat badan 58 kg ini juga aktif dalam kampanye Osteoporosis.

Kehidupan Pribadi
Minati menikah dengan Alexander Felder, seorang pengusaha. Pernikahan mereka membuahkan 2 orang anak, Cakra Crisandi Felder dan Cantika Ramona Felder. Kini Cantika mengikuti jejak ibu dan tantenya berkarir di dunia hiburan. Sebagai langkah pertama, Cantika membintangi sebuah video klip.

Minati & Lux
Pertama kali dikontrak Lux pada 1984, Minati yang mulai menanjak karirnya belum begitu dikenal pada saat itu, justru sang adik Chintami Atmanagara yang lebih dikenal, mungkin karena sang adik berkarier di dua bidang sekaligus dan dua-duanya lumayan berhasil. Tetapi nama Minati tidak bisa di abaikan begitu saja, terbukti sosoknya yang cantik dan dewasa lebih menarik perhatian Lux.

Sebagian dari tulisan diatas diambil dari http://id.wikipedia.org/

Kamis, 04 Februari 2010

Marini

Marini
Kanjeng Raden Ayu Soemarini Soerjosoemarno, sekarang dikenal sebagai Marini Burhan Abdullah (lahir di Malang, 2 November 1947; umur 62 tahun) adalah seorang penyanyi yang telah tampil di panggung dan layar TV sejak tahun 1960-an dan telah merekam puluhan album, baik yang direkam di Indonesia maupun di luar negeri yang direkam di Polydor, Philips, EMI di Singapura, Tokyo, dan Kualalumpur.

Karir
Marini dan Sandra Sanger merupakan penyanyi andalan The Steps ditahun 1970-an, mereka lebih dari 8 tahun melanglang kota-kota besar Asia, Singapore, Kuala Lumpur, Tokyo dan Hongkong. Marini sebagai pemeran wanita (film) Indonesia yang terkenal pada film-film era 1975-an, pernah terpilih sebagai The Best Actress (Pemeran Wanita Terbaik) pada Festival Fim Asia (FFA Awards) di Seoul, Korea. Sampai saat ini Marini masih sering tampil menyanyi bersama Band The Steps. Bulan Agustus 2008 Marini & The Steps melakukan Konser di Sultan Hotel (dahulu Hilton Hotel) Jakarta. Juga sampai saat ini Marini masih aktif tampil sebagai pemeran film sinetron terutama yang bertemakan religi dilayar kaca, dan tampil lagi dilayar lebar pada film Ayat-Ayat Cinta yang mencapai rekor jumlah sementara tertinggi di Indonesia, ditonton lebih dari 3,9 juta penonton.

Kehidupan Pribadi

Marini adalah anak ke-dua dari pasangan Soetarjo Soerjosoemarno (Mayjen TNI/Alm.), keluarga kesultanan Keraton Mangkunegaran Solo, dan Dolly Zegerius, gadis Belanda keturunan Yahudi yang dinikahi pada tahun 1943 saat Soetarjo studi di Technische Universiteit Delft, Nederland.

Salah satu adik kandungnya adalah Japto Soerjosoemarno yang sampai kini menjabat sebagai Ketua Umum Pemuda Pancasila dan juga Ketua Umum Partai Patriot (dahulu Partai Patriot Pancasila). Dari perkawinannya terdahulu Marini memperoleh dua putra dan seorang putri yaitu Parama Pandu Suwastomo (pernah menjadi Ass Director Robert Wilson menampilkan sebuah Theater Cerita Sastra Sulawesi Selatan "I Laga Ligo",keliling dunia yaitu: Singapore, Belanda, Perancis,Spanyol, Amerika dan Australia); Puteri kedua, Shelomita Sulistiany(lahir 26 Nov.1974)seorang penyanyi Indonesia menikah dengan Arya Fajar Faizal Diah (lahir 12 Des.1974)dikaruniai empat orang anak :

  • Arya Fattah Mohammad Diah (18/08/2001)
  • Shanata Sakinah (15/06/2003)
  • Shakira Shakviya Efrona Diah (01/09/2005)
  • Shaffanah Racitra Shalmiya.

Putera ketiga, Reuben Elishama (18/09/1978), seorang aktor pemeran film & Sinetron Indonesia juga penyanyi group band CHANNEL, dari perkawinannya yang pertama memperoleh seorang putri bernama Taj Belleza Izdihar Elishama.

Setelah menikah dengan Burhan Abdullah, namanya dikenal sebagi Marini Burhan Abdullah. Mereka berdua sekarang lebih banyak menyalurkan kegiatannya di bidang pendidikan dan sosial, diantaranya Sekolah Taman kanak-Kanak bagi anak-anak yg orang tuanya tidak mampu dan TPA & Panti Asuhan. Marini bersama beberapa artis pemeran dan penyanyi senior Nenny Triana, Diah Iskandar, Jelly Tobing, Eddy Susilo, Neneng Salmiah SH, Dodot,SH,Dian Pisesha, Merry dan masih banyak lagi, telah membentuk organisasi Solidaritas Artis Indonesia (STARINA). Organisasi STARINA merupakan wadah kerjasama dan kegiatan sosial bagi Artis pemeran dan penyanyi Indonesia yang telah memasuki lansia.

Sejak 2004, Marini telah ikut aktif dibidang politik sebagai fungsionaris dan Caleg Partai Patriot Pancasila (sekarang Partai Patriot). Marini juga disamping aktif sebagai Srikandi Pemuda Pancasila, kini bersama beberapa teman-teman, mendirikan Japto Soerjosoemarno Center (JSC), sebagai lembaga kajian Kebangkitan Semangat Kebangsaan dalam mempertahankan UUD 1945, Pancasila dan NKRI.


Marini dan LUX
Image ibu yang masih awet cantik ini lumayan melekat pada Lux, sejak membintangi iklan Lux pada awal 80an wajah ayunya sudah dua kali menghias iklan Lux yang terbit dalam 4 versi. Beliau juga termasuk salah satu bintang Lux Indonesia yang sempat membintangi iklan versi TVC. Sebab setelah itu TVRI yang satu-satunya stasiun TV di indonesia dilarang untuk menayangkan iklan.


Diambil dari http://id.wikipedia.org/

Widyawati

Widyawati (lahir 12 Juli 1950; umur 59 tahun) adalah artis Indonesia yang berjaya sejak dekade 1970-an dan 1980-an & beragama Islam. Namanya mulai melambung saat bermain sebagai Yuli dalam Pengantin Remaja bersama Romi yang diperankan Sophan Sophiaan.

Beliau dikontrak sebagai bintang iklan Lux sejak 1976, sebagai salah satu bintang yang lumayan lama membintangi iklan sabun kecantikan ini. Image ibu yang masih awet cantik ini masih melekat pada Lux, sulit sekali mengingatnya tanpa embel-embel Lux.

Dunia film tak hanya membesarkan namanya, seperti dengan diraihnya Piala Citra 1987 untuk kategori Aktris Terbaik dalam film Arini, Masih Ada Kereta yang Akan Lewat. Dunia film juga yang mempertemukan Widyawati dengan sang suami, aktor dan sutradara yang tidak asing lagi namanya, Sophan Sophiaan. Widyawati-Sophan menikah pada tanggal 9 Juli 1972, di Masjid Al-Azhar.

Bermain film sejak usia belasan tahun, hingga sekarang, Widyawati masih menunjukkan eksistensinya. Pada tahun 2008, Widyawati bersama suaminya, Sophan Sophiaan akan membintangi film berjudul Love, sebuah film yang mengangkat tema cinta dari berbagai karakter dengan beragam latar belakang.

Selain sebagai aktris, beliau ternyata juga salah satu penyanyi handal, bahkan ternyata karirnya dimulai dari bidang tarik suara bersama kedua saudarinya dalam Trio Visca. Saat ini sudah beberapa album yang telah dihasilkanya termasuk "Saat Aku Sendiri" Cipt. Pance pada 1985 dan "Nostagi Widyawati" yang merilis kembali lagu-lagu lama termasuk Kemuning Cipt. A. Riyanto pada awal 2000...

Diambil dari http://id.wikipedia.org/

Rima Melati

Tidak banyak yang tahu kalau Rima Melati adalah salah satu bintang Lux pada akhir 60an, maklum saja sebab saat itu media masih sangat terbatas, dan belum ada yang begitu perhatian pada produk sabun kecantikan yang kini iklannya selalu dibintangi oleh bintang papan atas dan nama Rima Melati pada zamannya termasuk bintang dan pragawati papan atas.

Marjolien Tambajong atau Lientje Tambajong atau lebih dikenal dengan nama Rima Melati (lahir di Tondano, Sulawesi Utara, 22 Agustus 1939; umur 70 tahun) adalah seorang aktris senior, penyanyi, sutradara dan juga mantan peragawati Indonesia. Ibunya Non Kawilarang adalah seorang perancang dan perintis dunia mode Indonesia. Suaminya yang sekarang adalah suami kedua yaitu Frans Tumbuan, salah satu aktor senior Indonesia dan mereka menikah pada tanggal 23 Desember 1973.

Ketika di bangku SD Kebangkitan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS), Rima pernah satu kelas dengan mantan Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid.[1]

Selain itu ia pernah menjadi personel grup penyanyi wanita terkemuka di Indonesia pada tahun 1960-an, Baby Dolls, yang terdiri atas Rima Melati, Baby Huwae, Gaby Mambo, dan Indriati Iskak.

Rima pernah meraih Piala Citra juga pada Festival Film Indonesia tahun 1973 dalam kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik dalam film Intan Berduri bersama Benyamin Sueb yang memperoleh penghargaan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik dalam film yang sama. Pada kesempatan lain Rima pernah juga dinominasikan untuk penghargaan Pemeran Pembantu Wanita terbaik di beberapa Festival Film Indonesia yaitu dalam film Kupu-Kupu Putih (1984), Tinggal Landas buat Kekasih (1985), Pondok Cinta, (1986), Biarkan Bulan Itu (1987) dan Arini II (Biarkan Kereta Itu Lewat) (1989). Selain itu Pada ajang Festival Film Asia Pasifik ke-50, Rima Melati meraih penghargaan Aktris Pemeran Pembantu Terbaik dalam film Ungu Violet.

Saat ini Rima masih aktif juga sebagai aktris sinetron. Beberapa diantaranya adalah Wulan - RCTI, Kabut Sutera Ungu - Indosiar, Nyonya Nyonya Sosialita/Laba-Laba Cinta - Indosiar dan Candy - RCTI. Selain itu Rima juga dikenal sebagai sutradara televisi yang salah satu karyanya adalah Api Cinta Antonio Blanco.

Ihwal nama Rima Melati adalah pemberian Bung Karno. Sekitar awal 1960-an Bung Karno suka mengganti nama orang yang dikenalnya, yang dirasa kebarat-baratan. Nama asli Rima, Marjolien Tambajong, dengan panggilan Lientje, memang pernah dikatakan kebarat-baratan oleh Bung Karno.

Pada saat itu Marjolien yang sedang mengandung anak kedua, ingin memberi nama Rima kepada si anak jika perempuan. Ia diilhami tokoh Rima the Bad Girl dalam film Green Mansions (1959) yang diperani Audrey Hepburn. Sayang, janin itu meninggal sebelum dilahirkan. Lientje yang terpukul, menceritakan peristiwa itu kepada Bung Karno, sekaligus mengutarakan keinginannya untuk mengambil alih nama Rima, dikombinasi dengan "Melati".

Rima Melati, yang kini aktif di Yayasan Indonesia Tanpa Tembakau (YITT), pernah mendapat penghargaan dari WHO berupa 'Award No Tobaco Day' karena usahanya dalam kampanye antirokok. Menurut Kepala Perwakilan WHO di Indonesia, George Petterson, Rima terpilih sebagai satu-satunya orang Indonesia dari 10 warga dunia yang pada tahun 2006 mendapat piala penghargaan dari WHO. Rima Melati mulai merokok pada umur 16 tahun karena pengaruh lingkungan dan tontonan. Rima berhenti merokok pada 1989 setelah kerak tar dan nikotin dalam tubuhnya menimbulkan kanker pada usus dan payudara.

Diambil dari http://id.wikipedia.org/

Ket: Gambar diatas bukan iklan Lux yang sesungguhnya dan hanya rekayasa. Iklan tersebut diambil dan diedit dari iklan parfum dari Viva.

Rabu, 03 Februari 2010

Lux By Me

Ini adalah beberapa iklan Lux hasil rekayasa buatan aku... Hmm ga bisa komentar sih, nanti jadi narsis n muji2 diri sendiri :)
Sebetulnya ga ada niat apa2, aku buat iklan2 ini karena ingin lihat iklan yang lain dari iklan yang sudah ada dan karena susah dapat iklan dari beberapa bintang internasional seperti Shu Qi, Brigitte Bardot dll.

Lux France

Lux, produk sabun kecantikan legendaris yang berasal dari Prancis ini memang sudah terkenal di seluruh dunia. Tidak terkecuali di negeri asalnya. Seperti negara lainnya yang selalu memasang bintang nomor satu dan terpopuler pada masanya. Seperti: Gene Tierney 1953, Marilyn Monroe 1954, Jane Fonda 1965/1966, Ursula Andress 1965/1966, Catherine Deneuve 1966, Mylene Demongeot 1966 dan Marie Jose-Nat 1966. Layout dan setting iklan Lux Prancis pada tahun 1966 hampir seragam, hanya bintang dan isi tulisannya saja yang berbeda, selain mereka masih ada Chantal Goya 1966, Mireille Mathieu 1966 dll.